Jakarta Tech Firm Content

Panel pembicara yang terdiri dari para pengusaha startup digital pada event Start to Upgrade Now yang diadakan BINUS University

Terlepas tingginya resiko yang akan dihadapi, semakin banyak pemuda Indonesia yang mendirikan perusahaan digital mereka sendiri setelah selesai dari bangku kuliah. Terinspirasi dari berbagai pengusaha startup yang sukses, mereka mengibarkan bendera, menarik layar, dan siap menerjang apapun di hadapan mereka. Namun, hanya para pelaut sejati saja yang mampu menangani samudra (pasar) yang keras. Berikut saran-saran dari 4 pengusaha startup ke mahasiswa BINUS pada talkshow yang diadakan pada 6 Juni lalu.

Acara tersebut mengundang 4 pembicara yang merupakan pengusaha startup terkemuka di Asia, yaitu Steven Kim, CEO dari website kuliner Qraved; Hanifa Ambadar, CEO Female Daily Network; Sudhakar Kondisetty, CTO layanan pencari hotel Nida Rooms; dan Tianwei Liu, CEO perusahaan pembayaran elektronik Xfers, serta moderator dari Content Collision. Selain para moderator, semua perusahaan pembicara didukung oleh perusahaan investasi teknologi lokal, yaitu Convergence Ventures.

BINUS cukup dikenal dengan dukungannya yang kuat terhadap semangat entrepreneur di Indonesia. Universitas yang satu ini bertujuan untuk menanamkan kemampuan dan mentalitas startup kepada para mahasiswanya. Ini jugalah yang menjadi alasan kenapa Entrepreneurship menjadi salah satu tonggak kurikulumnya. Tidak heran ketika acara dimulai, sudah banyak peserta dan media yang membanjiri lokasi.

Daya Tarik Untuk Hidangan Pembuka

Jakarta Tech Firm 2

Hanifa Ambadar, pendiri dan CEO Female Daily Network.

Sesi pertama dimulai dengan para panelis menceritakan statistik traksi mereka saat ini. Statistik ini meliputi angka pengguna aktif hingga nilai dolar dari hasil transaksi yang dimiliki perusahaan.

Steven Kim menceritakan bahwa sampai sekarang, jumlah pengguna Qraved telah menembus angka 1,5 juta, dan Qraved telah terhubung dengan lebih dari 35 ribu restoran di seluruh Indonesia. Hanifa Ambadar dari Female Daily — forum dan komunitas online yang berdedikasi untuk kecantikan  — mengatakan sebanyak 2,3 juta pengguna wanita di seluruh Indonesia telah menjadi pengguna aktif.

Nida Room membanggakan slogan mereka: “Franchise Hotel Terbesar di Asia,” dengan wilayah operasi yang mencakup Malaysia, Thailand, Indonesia, dan Filipina. Menurut Sudhakar Kondisetty, jumlah pengguna telah mencapai lebih dari 200 ribu dan telah bekerjasama dengan lebih dari 3.500 hotel di seluruh Asia Pasifik hanya dalam waktu 7 bulan. CEO Xfers Tianwei Liu mengungkapkan bahwa perusahaannya kini sedang memproses dana pembayaran elektronik sebanyak 20 juta dolar Singapura (Rp 195 juta) setiap bulannya.

Latar Belakang sebagai Hidangan Pembuka

Jakarta Tech Firm 3

Steven Kim, pendiri dan CEO Qraved

Steven Kim bermula dari kerasnya dunia Rocket Internet — perusahaan Jerman yang berharga miliaran dolar yang ingin menjadi perusahaan internet terbesar di luar China dan Amerika Serikat. Di Asia Tenggara, kamu mungkin pernah mendengar nama seperti Lazada atau Zalora yang keduanya lahir dari Rocket Internet.

“Dulunya saya menjual baju di Zalora. Sekarang terjun ke bidang kuliner karena saya pecinta makanan,” kata Steven. Ia pertama kali menemukan permasalahan dalam mencari makanan di Indonesia, dan sampailah pada kesimpulan bahwa jaringan web sedang mengubah segala yang kita ketahui saat ini. Menyadari bahwa permasalahan tersebutlah yang ingin ia selesaikan bersama co-founder-nya (Adrian Li, sekarang founder dan managing partner dari Convergence Venture), Steven mengklaim bahwa ia ingin ‘proaktif terhadap masalah yang penting’ untuknya.

Di lain sisi, Hanifa berawal dari seorang blogger di tahun 2005. Berkat cara penyampaian cerita pribadinya yang unik, banyak pembaca menjadi tertarik dan tidak lama kemudian penghasilan dari iklan juga mengikuti. Setelah semakin banyak wanita yang mampir ke blog-nya, Hanifah memutuskan untuk “tidak hanya menceritakan tentang dirinya”. Ia kemudian mengubah situsnya menjadi tempat bagi para wanita Indonesia untuk berdiskusi tentang kecantikan dan gaya hidup.

Tianwei dulu bekerja di sebuah startup di Silicon Valley setelah tamat dari National University of Singapore. Setelah perusahaan tersebut diakuisisi oleh Google (sekaligus menyelamatkannya dari kebangkrutan), Tianwei beralih ke Amazon. Tidak lama kemudian, ia menjadi bosan dengan perannya yang tidak terlibat dengan produk sama sekali. Saat itu juga, ia merasa bahwa kehidupan startup-lah yang paling cocok untuknya. Ia kemudian membangun Xfers dengan misi “menyatukan jaringan perbankan di seluruh Asia Tenggara.”

Sudhakar dulu merupakan kepala dari bagian IT dan pendapatan ancillary (ancillary revenues) dari Spicejet Limited di India sebelum beralih ke bisnis hotel. Pengalamannya sebagai pengusaha startup di bidang teknologi dibangun setelah mendirikan dan kemudian menjual startup yang berpusat pada jasa pelayanan finansial. Demi mencari tantangan baru, ia kemudian bekerjasama dengan Kaneswaran Avili, CEO dan co­-founder Nida Rooms sekarang.

“Sial!” Sebagai Menu Utama

Jakarta Tech Firm 4

Leighton Cosseboom, CEO dari Content Collision sebagai moderator, bertanya mengenai pembicara tantangan dari startup.

Dari waktu ke waktu, setiap entrepreneur atau pengusaha terutama pengusaha startup memiliki momen yang disebut sebagai momen “Sial!”. Momen-momen ini hadir ketika perusahaan sedang menghadapi tantangan yang sangat sulit dilewati — waktunya untuk terus berenang atau tenggelam.

Untuk Qraved yang sampai tahun lalu masih menjadi platform untuk reservasi restoran, Steven berkomentar bahwa biaya akusisi pengunjung terlalu tinggi untuk dikeluarkan perusahaan jika tetap ingin bertahan. Ditambah lagi, bermitra secara eksklusif dengan perusahaan sangat tidak membantu karena hadirnya kompetitor Zomato juga sedang gencar-gencarnya di Jakarta.

Tak mampu untuk merugi lebih lanjut, Qraved membanting setir dan berputar arah untuk memusatkan fokus ke berbagai macam liputan kuliner, bahkan makanan kaki lima. Qraved juga tengah fokus membangun komunitas online-nya agar para pecinta makanan dapat menambah inspirasi dan informasi mengenai restoran baru. Tidak lama kemudian, perusahaan tersebut beralih dari fokus transaksi B2C menjadi model bisnis yang suatu hari dapat mendapatkan uang melalui liputan kuliner.

Aliran kas merupakan permasalahan utama bagi Female Daily. Dikarenakan ketergantungan yang tinggi kepada iklan, jika ada klien yang tidak membayar tepat waktu, maka seluruh proses bisnis akan menjadi lambat. Hanifa mengatakan, biasanya klien akan bertanya dulu kepada atasannya, yang juga sedang menunggu persetujuan dari pihak lain. Sehingga proses yang harus dilalui cukup perih dan lama untuk bisa dibayar. Momen “Sial!” nya itu datang ketika selama 3 bulan ia dan para manajernya tidak dapat membayar gaji mereka sendiri.

Walaupun Tianwei tidak menspesifikkan saat yang menjadi momen “Sial!”nya, ia menyumbangkan sebuah mentalitas yang berguna. “Momen ‘sial!’ sebenarnya hadir hampir setiap hari,” katanya. Miskomunikasi, kesalahan manusia, dan dinamika perubahan pasar dapat terjadi sewaktu-waktu dan berdampak besar pada bisnis kita. “Kita cuma bisa move on. Jangan panik. Tenangkan diri dan mulai berfikir akan permasalahan dan solusinya.”

Penuci Mulut, Pengetahuan Lebih Berharga daripada Uang.

Jakarta Tech Firm 5
Muncul sebuah pertanyaan yang selalu terbayang di benak para pengusaha muda: “Bagaimana jika kita tidak memiliki uang?”

Tianwei menjawab dengan cukup lugas: “Cari kerja, kamu bakal menemukan uang kalau memang menginginkannya.” Ia menyarankan untuk mengerjakan startup pada waktu luang, malam hari, atau akhir pekan sembari memegang pekerjaan full-time. Hanifa menyarankan agar ‘pitching’ perusahaan ke media untuk sebuah berita merupakan cara yang baik untuk memikat klien.

Steven sendiri percaya bahwa ada baiknya mencari pendapat dari orang sekitar. Bisa saja dengan berkomunikasi sama keluarga atau teman. Tinjaulah apakah ide kamu bisa divalidasi oleh orang di sekitar kamu, karena berbincang dengan pengguna awal yang berpotensial jauh lebih penting dibandingkan menghamburkan uang untuk usaha marketing. Hanifa juga menekankan pentingnya tampil beda dibanding kompetitor, sedangkan Sudhakar menyarankan untuk selalu mencari persoalan yang paling utama dan mendasar. “Jangan ‘mengejar’, namun cobalah untuk dikejar akibat tawaran yang kamu berikan”, sarannya.

Salah satu hadirin kemudian melontarkan pertanyaan: “Bagaimana cara membuat investor percaya kepada kita?” Tianwei dan yang lainnya setuju bahwa mencari uang tidak boleh menjadi prioritas, terutama di tahapan awal. Sebaliknya, fokuslah terhadap produk yang kamu jual. “Kuncinya adalah mencari mitra yang sesuai, dan tampil beda dari kompetitor karena merekalah orang-orang yang membuat kita berkembang.” ujar Sudhakar.

Pembicara lain juga setuju terhadap ide bahwa mendapatkan pengguna-pengguna untuk mencoba jasa layanan kamu dengan kondisi anggaran yang sangat minim merupakan cara terbaik untuk memvalidasikan bisnis kamu di hadapan para investor.

Namun tentu saja, para pengusaha startup sebaiknya tidak berkeliling mencari VC tanpa memiliki sejumlah track record atau pengalaman. Lebih baik fokuslah membangun perusahaan dengan sumber daya yang ada tanpa memikirkan investor. Ketika kamu menemukan formula yang tepat untuk meningkatkan traksi, investor akan datang dengan sendirinya. Tianwei sendiri mengatakan kalau uang akan selalu datang ketika kamu sedang tidak mencarinya. Dan ia tidak akan hadir ketika kamu membutuhkannya.

Steven menambahkan, “Dalam dunia startup, kamu bukanlah bos dirimu sendiri. Tidak ada jam kerja yang fleksibel, tidak ada gaji tambahan, dan pastinya kamu akan bekerja lebih keras dibandingkan yang lain. Lebih banyak investor berarti lebih banyak bos, dan lebih banyak ekspektasi yang harus kamu capai. Sama sekali tidak ada ruang untuk berleha-leha.


Hubungi Kami