Content Marketing-1

Banyak entrepreneur mulai sadar mengenai pentingnya content marketing dalam menemukan calon pelanggan baru. Namun, berdasarkan observasi kami, masih banyak entrepreneur yang belum tepat dalam melakukan content marketing. Kebanyakan dari mereka fokus pada pembuatan konten viral yang menarik banyak penonton (audience), sehingga langsung melompat ke dalam tren tanpa berpikir panjang.

Sebagai contoh, akhir-akhir ini cukup populer dengan tren ‘tantangan’. Sebut saja mannequin challenge yang ditiru di mana-mana. Melihat tren tersebut, banyak sekali perusahaan dan agensi yang membuat video content marketing serupa dengan berbagai kualitas dan inovasi.

Memang terjun ke dalam tren membuat kesempatan meningkatkan brand awareness lebih tinggi. Namun, terkadang usaha melakukan marketing melalui konten atau topik viral bisa sia-sia, jika konten anda:

  1. Tidak dikonsumsi oleh target penonton Anda (terutama untuk model bisnis B2B)
  2. Tidak menampilkan produk atau brand (bisnis) Anda secara kredibel di depan target penonton.
  3. Tidak membuat pelanggan Anda merasa ingin tahu terhadap brand atau produk yang Anda tawarkan.

Untuk menghindari 3 keslapan tersebut, kami menawarkan 4 tips mudah yang bisa Anda terapkan dalam proses pembuatan konten marketing untuk perusahaan anda

1. Buat customer persona anda

 

Content Marketing

Customer persona merupakan target pasar anda. Konsep ini menjelaskan gambaran mengenai orang-orang yang ingin Anda sadarkan tentang brand anda.

Idealnya, sebelum Anda mulai membuat konten, Anda perlu mendefinisikan customer persona Anda terlebih dahulu. Dengan melakukan hal ini, Anda akan lebih mudah membedakan konten apa yang akan menarik (dan tidak) target pasar anda.

Hal ini sangat penting, karena tujuan dari konten adalah mengubah (convert) para pembaca/penonton menjadi calon pelanggan, yang kemudian berubah menjadi pelanggan setia. Dalam mendefinisikan, Anda perlu memperhatikan beberapa elemen secara detil, misalnya:

  • Nama target persona
  • Jenis kelamin
  • Rentan usia
  • Literatur (buku, blog, majalah) yang mereka baca
  • Website dan blog yang mereka kunjungi
  • Acara yang suka ditonton atau dihadiri
  • Siapa tokoh yang memiliki pengaruh (menjadi panutan) terhadap mereka

Dengan mendefinisikan persona ini secara jelas, proses pembuatan konten Anda akan lebih mudah.

2.Tentukan goals dan pain points dari customer anda

Setelah Anda membuat customer persona, hal kedua yang dapat Anda lakukan adalah menentukan goals (tujuan) dan pain points (kesusahan) dari pelanggan anda.

Dalam menentukan goals dan pain points dari customer, Anda perlu merujuk pada data ketimbang asumsi belaka. Kami menyarankan Anda untuk setidaknya melakukan wawancara terhadap pelanggan. Tujuannya tiga: untuk memahami alasan mereka mempercayai dan menggunakan brand anda, serta kesulitan apa yang berpotensi membuat mereka berpindah hati.

Sebagai contoh: perusahaan Anda adalah startup yang bergerak di bidang B2B (Business to Business) yang menawarkan platform pelayanan untuk pembayaran gaji (payroll) untuk keperluan SDM perusahaan.

Anda telah mendefinisikan customer persona Anda yaitu para CEO, staff, manajer, dan segenap kelompok SDM dari berbagai perusahaan. Setelah melalui proses wawancara, Anda akhirnya menemukan pain points utama dari customer persona Anda adalah permasalahan standar gaji. Klien Anda belum tahu standar gaji yang tetap untuk tim sales mereka dalam industri mereka pada tahun selanjutnya. Mereka khawatir bahwa standar gaji yang ditentukan terlalu tinggi, atau terlampau rendah. Melihat permasalahan ini, mungkin Anda dapat membuat konten berisi tulisan-tulisan yang bertema “Panduan Gaji tahun 2017”.

Dengan membuat konten bertemakan itu, Anda bisa semakin yakin bahwa orang-orang yang membaca konten Anda adalah orang yang masih keliru dengan standar gaji. Sehingga anda akan lebih yakin bahwa kegiatan content marketing anda lebih efektif

3.Pecahkan jenis konten anda

Content Marketing 3

Jika Anda selesai membuat satu jenis konten, maka Anda dianjurkan untuk merubahnya dalam bentuk yang berbeda untuk disebar di berbagai channel distribusi lainnya. Misalnya konten yang Anda buat berbentuk artikel web. Anda dapat merubahnya menjadi infografik yang biasanya populer dikalangan pengguna sosial media.

Tergantung sosial media yang Anda gunakan sebagai target distribusi, konten yang dibuat bisa bervariasi. Misalnya, saat ini algoritma dari facebook memberikan nilai lebih kepada konten video. Oleh karena itu, dibanding Anda melakukan postingan artikel blog Anda ke dalam Facebook secara langsung, Anda bisa mencoba format konten video. Dalam caption, Anda bisa memasukkan link landing page blog anda.

4.Distribusikan konten anda

Setelah Anda meluncurkan konten anda, tiba saatnya menunggu pembaca atau pengunjung untuk hadir dalam laman web anda. Eh, tapi setelah ditunggu, ke mana ratusan ribu page views yang harusnya tercatat? Ke mana semua orang pergi?

Meskipun Anda ungkapan bahwa “content is king”, distribusi kontenlah yang mengangkatnya menjadi raja. Anda harus mencari di mana calon pelanggan Anda beraktivitas online.

Salah satu caranya adalah, Anda bisa mendistribusikan dalam semua jalur sosial media yang ada. Namun, tidak lupa bahwa tingkat jangkauan organik konten yang berasal dari sosial media menurun 52% sepanjang tahun 2016.

Hal ini menunjukkan usaha sosial media yang semakin besar dalam mendorong Anda untuk mendistribusikan konten Anda dengan metode berbayar (paid advertising). Oleh karena itu, Anda harus menyiapkan budget yang berbanding lurus dengan jumlah target distribusi konten anda.

Di sinilah Anda harus mengingat kembali definisi persona target pelanggan Anda. Seringkali target pembaca dan pelanggan memiliki ketertarikan atau ciri yang sama. Apa merk, kebiasaan, minuman, dan aktivitas yang mereka sukai yang selama ini kamu temukan akan sangat berguna pada tahapan ini.

Hal lain yang dapat Anda lakukan adalah mencari pihak yang memiliki otoritas tinggi (dikenal banyak dan baik) di mata customer persona anda. Anda dapat menawarkan diri untuk menulis di blog mereka (guest posting) atau sebaliknya, untuk meminjam popularitas mereka dalam mengangkat brand anda.