4-sebab-linkedin-brand-sepi-engagement

4 Alasan Kenapa Profil LinkedIn Brand Startup Anda Sepi Engagement

Bukan rahasia lagi bahwa LinkedIn adalah tempat yang subur bagi brand dengan industri B2B untuk membangun kredibilitas, menggaet talent, investor, hingga mendapatkan leads. 

Namun, seringkali terjadi strategi content marketing pada LinkedIn yang diterapkan belum berhasil menghasilkan reaksi engagement yang diinginkan, seperti likes dan share yang sangat sedikit. Padahal, Anda telah melakukan posting konten rutin dan konsisten. Lantas, apa yang menjadi penyebabnya?

Sebagai content marketing agency yang telah menangani manajemen konten berbagai akun LinkedIn brand startup teknologi, Content Collision (C2) telah merangkum beberapa penyebab umum sepinya engagement konten LinkedIn brand startup Anda. 

 

4 Alasan Mengapa LinkedIn Startup Anda Sepi Engagement

Berikut 4 penyebab LinkedIn brand startup Anda mendapat minim engagement.

 

1. Konten Terlalu Fokus pada Pembahasan Teknologi dan Fitur yang Startup Anda Gunakan

Anda boleh saja ingin teknologi terbaru yang digunakan oleh startup Anda diketahui oleh audiens. Namun sayangnya, rata-rata audiens cenderung bosan dengan konten teknologi, terlebih jika yang dibahas adalah aspek teknis saja. Hal yang sama juga berlaku pada konten yang hanya membahas fitur bisnis Anda. 

Memang, teknologi dan fitur bisnis bisa menjadi keunikan yang potensial untuk di sorot dalam profil LinkedIn Anda. Namun, pada dasarnya audiens akan tertarik jika pembahasan ini dihubungkan dengan solusi dari permasalahan yang mereka hadapi. 

Anda bisa menemukan benang merah ini melalui analisis user pain points. Sehingga, konten teknologi dan fitur brand startup Anda akan selalu relevan dengan audiens.

4-sebab-linkedin-brand-sepi-engagement
sumber: unsplash

 

2. Minimnya Analisis Terhadap Jenis Konten yang Dipublikasikan

Sebelum membuat konten, Anda wajib menetapkan goal dan KPI. Jika goal utamanya adalah meningkatkan engagement rate, maka langkah pertama yang dapat Anda lakukan adalah menganalisis konten yang telah dipublikasikan.

Salah satu hal yang dapat Anda analisis adalah dari segi kesesuaian intent konten yang ada.

Bisa jadi, salah satu penyebab konten LinkedIn startup Anda sepi engagement karena konten yang ada tidak relevan dengan intent target audiens Anda. Sehingga, audiens cenderung melewati konten tersebut tanpa melakukan interaksi (likes, share, comment, dan lain-lain). Menganalisis konten pada dasarnya penting dilakukan setiap Anda menerbitkan sebuah konten, baik konten tersebut memiliki engagement rate yang rendah maupun tinggi. Ini karena analisis konten memberikan sejumlah benefit, antara lain

  • mengetahui jumlah pasti konten yang Anda miliki,
  • mengetahui konten apa yang paling diminati target audiens Anda,
  • mengetahui kapan harus mendaur ulang konten yang pernah dibuat,
  • menemukan konten yang belum pernah Anda buat (disebut juga content gap),
  • memperbaiki arsitektur website.

Untuk menganalisis konten yang sudah terbit, salah satu cara yang dapat Anda lakukan adalah menganalisis impressions dan engagement yang di dapat pada setiap jenis konten yang terbit. Dari titik ini, Anda akan mendapat insight bagaimana setiap konten akan membawa hasil yang berbeda; lebih tinggi atau rendah dibanding konten lainnya.

Poin inilah bisa Anda jadikan patokan dalam mengambil keputusan perencanaan konten kedepannya.

Sebagai contoh, di Content Collision kami rutin melakukan analisis setiap bulan untuk mengamati konten mana yang menuai respon positif. Hasil analisis ini akan dituangkan dalam bentuk performance report per bulan. Sehingga, klien dapat menentukan strategi peningkatan performa di berbagai metriks secara tepat sasaran.

Dalam menganalisis konten, metriks yang digunakan dapat disesuaikan dengan tujuan dari pembuatan konten tersebut. Secara umum, ada 5 metriks utama yang harus Anda perhatikan dalam mengukur keberhasilan campaign, yaitu

  • impressions,
  • total engagement,
  • engagement rate,
  • pageview,
  • followers growth.

Hal utama yang harus Anda perhatikan dalam meningkatkan engagement rate adalah membuat konten yang sesuai dengan intent audiens secara konsisten. Anda dapat mulai memperhatikan metriks social shares (bagi konten) dan comment (komentar). 

Di samping itu, perhatikan juga respons dari fitur tombol interaktif. Contohnya, di LinkedIn Anda bisa memberikan tanda like, insightful, celebrate, dan sebagainya pada sebuah post

Dilansir dari laman acumen.aamplify.partners, engagement rate untuk profil LinkedIn yang dikategorikan baik adalah 2%. Jadi, jika tingkat engagement konten Anda masih di bawah 2%, Anda perlu mengevaluasi lagi konten yang sudah dibuat.

 

3. Tidak Melakukan A/B Testing terhadap Jenis Konten yang Baru

A/B testing atau split testing adalah sebuah eksperimen marketing yang membandingkan 2 versi konten kepada dua kategori target audiens yang berbeda. Tujuannya, untuk mengetahui variasi konten mana memiliki performa lebih baik. 

A/B testing terbilang tahap yang penting mengingat tiap audiens memiliki persona yang berbeda. Konten yang berhasil di brand lain belum tentu berhasil pada brand Anda. A/B testing memiliki beragam benefit untuk strategi marketing.

Anda dapat mulai melakukan A/B testing pada konten baru yang ingin Anda terbitkan dengan menentukan variabel yang ingin diuji. Apakah Anda ingin menguji desain dari kontennya atau topik konten yang dibahas. 

Berikutnya, Anda harus menentukan metriks yang ingin dicapai. Contohnya, pilihlah yang ingin Anda capai antara likes, comments, atau kah social share. Sebisa mungkin pilih satu metriks dalam sekali kampanye A/B testing agar hasilnya dapat diukur dengan jelas.

Terakhir, anda dapat menjalankan kampanye A/B testing dengan menerbitkan dua konten dengan dua sisi pandang yang berbeda untuk masing-masing variabel yang sama dan target audiens yang berbeda.

Sebagai contoh, Anda dapat menerbitkan dua konten dengan topik “Social Media Management” namun dengan tone warna artwork yang berbeda. Tujukan kedua konten tersebut untuk audiens yang berbeda antara B2B dan B2C.

Anda dapat menganalisis performa kedua konten tersebut setelah kurun waktu yang ditentukan untuk melihat konten mana yang paling diminati masing-masing audiens.

A/B testing dilakukan untuk mengetahui konten yang sesuai dengan persona dan kebutuhan audiens. Tes ini penting bagi sebuah brand karena tidak membutuhkan biaya besar.

 

4. Konten yang Sudah Ada Tidak Mencerminkan Brand Personality

Secara sederhana, brand personality adalah serangkaian karakteristik yang dihubungkan pada sebuah brand. Bayangkan jika brand dianalogikan sebagai orang, karakter inilah yang akan menggambarkan orang tersebut. 

Anda dapat mulai menentukan persona brand untuk startup Anda dengan menentukan gaya bahasa yang digunakan, pemilihan warna, brand messaging, pemilihan gambar, hingga keseluruhan marketing campaign

Setelah menentukan persona brand untuk startup Anda, mulai konsisten untuk menyisipkannya di setiap konten Anda. 

Jika persona yang Anda tampilkan pada setiap konten berbeda-beda, maka akan menyulitkan konsumen untuk mengenali brand startup Anda. Hal ini adalah salah satu kunci untuk menghindari konten Linkedin startup Anda mendapat engagement rate yang rendah.

Beberapa brand besar berhasil menyisipkan persona brand di setiap kontennya. Contohnya Nike. Dari slogan (“Just Do It”) hingga misinya (“membawa inspirasi dan inovasi pada setiap atlet di dunia”), brand messaging yang ditampilkan pada setiap konten menggambarkan kegembiraan, gairah, dan energi. 

4-sebab-linkedin-brand-sepi-engagement
sumber: unsplash

 

Tips Mengatasi Konten Dalam LinkedIn Startup yang Minim Likes

Anda sudah membuat halaman khusus untuk brand yang sesuai dengan intent iaudiens, menarik secara visual, serta melakukan posting konten secara konsisten. Lantas, bagaimana jika konten di dalam LinkedIn startup Anda masih mendapat engagement rate yang rendah?

LinkedIn memiliki lebih dari 9 miliar impression di dalam platformnya. Dengan demikian, banyak sekali pemilik akun LinkedIn yang mencari ide menarik, laporan, webinar, hingga koneksi. Oleh karena itu, untuk menaikkan konten, Anda harus memahami apa yang disukai algoritma LinkedIn.

Dikutip dari postbeyond.com, Pete Davies, eks-Senior Director Product Management di LinkedIn, mengatakan ada 3 faktor utama yang menentukan menarik atau tidaknya konten pada Linkedin brand startup Anda

  • Koneksi personal. Konten harus dibagikan oleh orang sesungguhnya, semisal tim di dalam internal startup Anda, menggunakan akun LinkedIn personalnya. Konten yang hanya dibagikan oleh akun brand itu sendiri kemungkinan sulit tampil di beranda target audiens Anda.
  • Relevansi. Konten harus relevan dengan target audiens yang ingin Anda tuju.
  • Probabilitas engagement. Engagement memiliki efek seperti bola salju. Artinya, semakin menarik sebuah konten yang diterbitkan, semakin besar juga kemungkinan konten tersebut akan dibagikan, diklik berulang kali, ditayangkan lebih sering, dan sebagainya. 

Berdasarkan 3 faktor tersebut, Anda dapat mencoba tips berikut untuk meningkatkan engagement profil LinkedIn brand startup Anda.

 

Gunakan Hashtag (tagar) yang Relevan

Seperti platform media sosial lainnya, LinkedIn juga memiliki sistem tagar untuk mempermudah pengkategorian post. Saat menambahkan tagar di post Anda, coba hanya gunakan 2-3 tagar dalam satu post. Hal ini membuat konten Anda dapat secara spesifik ditayangkan pada audiens dengan intent yang sesuai.

 

Perkenalkan Tim Internal Startup Anda

Anda bisa menampilkan tim yang ada dalam startup Anda di halaman LinkedIn brand dengan membuat konten tentang

  • cerita personal dan kutipan personel tim, 
  • testimonial personel tim,
  • merayakan achievement yang berhasil dicapai startup,  
  • memperlihatkan kegiatan tim dalam sebuah event yang startup Anda adakan.

Konten yang terasa personal kemungkinan besar akan dibagikan kembali oleh tim internal Anda dan mendapat engagement yang lebih banyak. Apalagi jika personel tim tersebut memiliki koneksi yang solid. Mereka akan merasa dihargai secara publik dan profesional. 

 

Buat dan Rencanakan Konten Kedepan

Salah satu hal penting untuk menaikkan engagement rate adalah tetap konsisten membuat konten. Anda bisa memilih dan membuat konten yang paling sesuai dengan target audiens dan brand personality startup Anda.

Akhir kata, keempat poin di atas dapat Anda jadikan ceklis dalam analisis selanjutnya. Kunjungi www.contentcollision.co untuk konsultasi gratis perihal analisis konten dan profil LinkedIn brand startup Anda.

 

sumber:

postbeyond.com

acumen.aamplify.partners